Tama datang memakai celana jeans usang dengan hodie hitam
kesayangannya. Kacamata di hidungnya yang mancung sesekali ia benarkan karena
melorot. Matanya terus mencari tanpa mau menatapku yang duduk persis di
sebrangnya. Dua tahun aku mengenalnya, aku tau dia sedang gugup entah karena
apa.
Pesanan kami datang. Jus melon dan mie ayam kesukaanku
membuatku lupa pada tama yang entah kenapa hanya memesan minuman. Mungkin dia
sedang bokek, entahlah. Aku terlalu lapar untuk berfikir tentang keanehan Tama.
“pelan-pelan makannya,” tegur Tama sambil (akhirnya)
menatapku. Aku hanya cengengesan sambil terus melanjutkan makan. Pekerjaan
kantor yang menumpuk membuatku lupa makan siang. Jadi jangan slahkan kalau
makanku tidak cantik. Toh aku memang tidak cantik sih.
Selama aku makan, Tama benar-benar diam. Biasanya dia bakal
nyerocos tentang apapun yang ia alami selama seminggu kami tidak bertemu. Maklum, Jakarta-bogor memiliki jarak yang lumayan sehingga kami harus cukup puas
bertemu seminggu sekali. Itu pun kalau tidak saling sibuk.
“kenyang?” tanya Tama saat melihatku menyingkirkan mangkuk
kosong dengan isi yang sudah berpindah ke perut.
“masih pengen es campur sih,” sahutklu nyengir.
“gih pesen,” katanya. Aku menggeleng sambil meminum jus
melonku.
“kamu mau ngomong apa? Maaf kepotong makan. Laper ga kuat,”
tanyaku setelah menyingkirkan gelas yang sudah kosong. Aku sudah kenyang, aku
siap mendengarkan.
“aku bingung harus mulai darimana,” kata cowokku itu sambil
lagi lagi, membenarkan kacamatanya.
Aku membenarkan posisi duduk ku dan mulai merasakan sesuatu
yang penting akan terjadi. Tama masih diam, aku diam, bahkan musik yang sedari
tadi mengalun pelan di kedai ini pun ikut-ikutan diam.
“kalau kita udahan
gimana mel?” tanyanya seketika membuatku kaget. Sebentar, dia ngajak putus?
“gimana? Putus maksudnya?” tanyaku memastikan. Tama
mengangguk gugup. “alasannya kenapa?” tanyaku akhirnya.
Tama menatapku ragu. “aku pingin ngelamar. Tapi kayanya kamu
bakal nolak. Kamu masih pengen kerja kan?” diam-diam aku mengiyakan
omongannya. “Inesa, aku udah 32 lho,” lanjut Tama dengan penekanan pada
umurnya yang memang sudah banyak.
Tapi, kalau sudah 32 lalu kenapa?
“ibu udah berisik minta cucu,” Lanjutnya seolah tau apa yang
aku fikirkan.
Ah Tama. Pacarku yang baik. Kalau sudah begini aku bisa apa?
Bersambung.
(Kalau mau copas ijin dulu ya!)

Comments
Post a Comment